Hedonisme sudah menyebar luas ke seluruh lapisan masyarakat, terkhusus di kalangan mahasiswa. Gaya hidup mahasiswa saat ini sudah sangat berbeda dari mahasiswa jaman dulu. Mahasiswa yang notabenenya dikenal sebagai “agent of change”, pada saat ini istilah tersebut sudah tidak berlaku untuk mahasiswa jaman sekarang. Kebanyakan mahasiwa sekarang mempunyai gaya hidup serba mewah dan tidak mengutamakan prinsip kebermanfaatan, hanya mengutamakan kesenangan semata. Mahasiswa menjadi apatis terhadap segala permasalahan sosial dan lingkungan. Mahasiswa hanya mengurusi masalah percintaan yang membuatnya terlena. Seolah-olah idealisme di dalam diri mahasiswa sudah tidak ada lagi. Hal tersebut jelas tidak dibenarkan dalam ajaran Islam yang mengajarkan prinsip kebermanfaatan dan prinsip hidup sederhana yang dilakukan oleh para nabi.
Bagi kaum hedonis, hidup adalah meraih kesenangan dalam hal materi yaitu sesuatu yang bersifat semu, sesaat dan artifisial. Hedonisme akan menjadi suatu masalah besar jika dari masyarakat tersebut tidak mau merubahnya sendiri. Dampak yang ditimbulkan dari cara pandang inilah yang kemudian membawa malapetaka dan bencana dalam kehidupan sosial masyarakat seperti disparitas pendapatan dan kekayaan antar golongan dalam masyarakat dan antar negara di dunia, lunturnya sikap kebersamaan dan persaudaraan, timbulnya penyakit-penyakit sosial, timbulnya revolusi sosial yang anarkhis dan sebagainya.
Solusi dari semua permasalahan sosial ekonomi tersebut pasti diinginkan oleh semua sistem ekonomi, baik itu sistem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis, dan sistem ekonomi Islam. Jalan masing-masing dari ketiga sistem itu tentu akan sangat berbeda satu dengan yang lain, pertanyaan selanjutnya, sejauh manakah konsistensi dan efektivitas dari masing-masing sistem ekonomi tersebut berjalan?. Faktanya bahwa sistem ekonomi kapitalis dan sosialis gagal mengatasi problematika tersebut karena pada ekonomi kapitalis masih terdapat istilah konglomerasi dan monopoli pada kalangan bermodal. Sedangkan pada sistem ekonomi sosialis, kesejahteraan belum semua kalangan mendapatkannya.
Dari beberapa sistem ekonomi tersebut, belum ada yang mampu menuntaskan semua permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Maka dari itu, diperlukan sebuah sistem yang mampu mengatasi semua permasalahan sosial tersebut. Jika kita merujuk pada sistem ekonomi Islam, maka itu adalah solusi yang bisa mengatasinya. Di dalam sistem ekonomi Islam, terdapat nilai-nilai kebaikan yang menjunjung tinggi keadilan. Sistem ekonomi Islam sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi kapitalis yang menindas kaum lemah dan tidak menganiaya hak-hak kebebasan Individu seperti yang dilakukan komunis, terkhusus Marxisme.
Sistem ekonomi Islam bersumber pada Al Quran dan As Sunnah yang mana di dalamnya terdapat nilai-nilai profetik yang bisa diterapkan dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Oleh karena itu, perlu ada suatu kajian yang intensif dalam memberikan alternatif pandangan, rumusan dan strategi pembangunan ekonomi yang lebih profetik dengan menggali inspirasi nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an, Hadis dan Sunnah, serta khasanah pemikiran para cendekiawan Muslim.
Sistem ekonomi Islam bisa juga dikenal dengan sistem ekonomi profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo. Kuntowijoyo merumuskan tiga nilai penting dalam bukunya sebagai pijakan yang sekaligus menjadi unsur-unsur yang akan membentuk karakter paradigmatiknya, yaitu humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar) dan transendensi (tu’minunna billah), suatu cita-cita profetik yang diderivasikan dari misi historis Islam sebagaimana terkandung dalam al-Qur’an surat Ali Imran, ayat 110. Sistem ekonomi profetik merupakan sebuah tawaran alternatif baru yang kiranya dapat mengatasi persoalan sosial melalui tiga unsur tersebut.
Dalam ekonomi profetik, humanisasi diartikan dengan memanusiakan manusia sebaik mungkin yang mana tidak ada istilah kesenjangan golongan diantara masyarakat. Sedangkan liberasi yang diartikan sebagai kebebasan yaitu erat kaitannya dengan persoalan penindasan, yang mana kemiskinan lahir karena ketimpangan ekonomi menjadi PR besar untuk unsur liberasi ini. Terakhir adalah transendensi (beriman kepada Allah) yang merupakan dasar dari kedua unsur tadi. Transendensi bertujuan untuk menjadikan keimanan sebagai aspek penting dalam membangun peradaban. Maka dari itu, jika masyarakat menerapkan ketiga unsur tersebut dengan baik, maka budaya hedonisme tidak akan muncul lagi sehingga semua permasalahan sosial yang terjadi dapat teratasi dengan baik.
[1] The International Forum On Globalization. Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan. (Jakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas. 2003), hal. 25-32

Tidak ada komentar:
Posting Komentar